Agribisnis
Pertanian perkotaan jakarta: pangan, inovasi, dan teknologi
Pertanian perkotaan di Jakarta berkembang sebagai respons adaptif masyarakat terhadap keterbatasan lahan, laju urbanisasi, serta meningkatnya kebutuhan ketahanan pangan perkotaan. Ketergantungan Jakarta terhadap pasokan pangan dari luar wilayah yang mencapai sekitar 98% mendorong pentingnya penguatan produksi pangan lokal melalui pendekatan inovatif dan berbasis teknologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan pertanian perkotaan di Jakarta terkait dengan pangan, inovasi dan teknologi. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif (mixed methods) melalui survei terhadap 382 responden dan wawancara mendalam di lima wilayah administrasi di Jakarta. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, dokumentasi, serta studi kasus pada Ladang Farm, Agro Edukasi Wisata Ragunan, Kebun Gangnam, Hidroponik Holic, dan Sumarsono Farm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaku pertanian perkotaan didominasi oleh perempuan usia produktif (57%) dengan tingkat pendidikan SMA hingga perguruan tinggi (48.59%), serta mayoritas memanfaatkan lahan publik seperti RPTRA dan taman kota (84.38%). Sistem budidaya yang paling banyak diterapkan adalah hidroponik (53.06%) karena efisien dalam penggunaan ruang dan air. Sebanyak 83.33% responden memperoleh dukungan dari Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (DKPKP), dan 66.12% menerima bantuan sarana produksi. Studi kasus menunjukkan penerapan inovasi teknologi seperti IoT smart farming, pemanfaatan limbah organik, serta penguatan fungsi sosial dan ekonomi berbasis komunitas. Secara keseluruhan, pertanian perkotaan di Jakarta mencerminkan sistem pertanian perkotaan yang berkelanjutan melalui integrasi teknologi, dukungan kelembagaan, dan partisipasi masyarakat, serta berkontribusi dalam memperkuat ketahanan pangan rumah tangga perkotaan.
| AGR26/005 | AGR 26/005 | Prodi Agribisnis (Ruang Skripsi & Tesis) | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain